Tentang Empati, Hutan, dan Makhluk yang Nggak Bisa Bicara
Beberapa waktu lalu gue cukup prihatin melihat berita tentang kebakaran hutan yang terjadi di beberapa titik di Kalimantan. Sedih, sih. Dan jujur aja, ada sedikit rasa kecewa juga melihat bagaimana kelestarian alam di negeri ini masih sering terasa seperti urusan nomor ke sekian. Seolah-olah hutan, sungai, laut, udara, dan segala isinya bisa terus dieksploitasi selama masih menghasilkan sesuatu buat manusia.
Padahal kalau dipikir-pikir, kita ini cuma numpang tinggal. Bukan pemilik bumi.
Tapi, ya… begitulah.
Kadang gue cuma bisa berdoa, semoga Indonesia ini diselamatkan dari tangan-tangan kotor korporasi-korporasi dan para pejabat korup yang cuma melihat alam sebagai angka di laporan keuangan. Semoga masih ada orang-orang yang punya hati.
Karena yang terbakar dalam kebakaran hutan itu bukan cuma pohon. Bukan cuma lahan.
Dan bukan cuma paru-paru manusia yang harus menghirup asapnya. Ada banyak makhluk hidup lain yang kehidupannya ikut berantakan. Hewan-hewan yang selama ini tinggal di dalam hutan kehilangan tempat berlindung. Mereka kehilangan sumber makanan. Kehilangan pohon-pohon yang selama ini menjadi rumah. Dan mungkin, dalam banyak kasus, kehilangan kesempatan untuk sekadar bertahan hidup.
Mereka nggak bisa pindah rumah seperti kita. Nggak bisa buka aplikasi dan pesan makanan, nggak bisa menelepon pemadam kebakaran, nggak bisa protes, nggak bisa bikin petisi.
Mereka cuma bisa lari. Itu pun kalau masih sempat.
Dan di situlah gue sering berpikir tentang satu hal yang menurut gue semakin penting di zaman sekarang:
empati.
Empati terhadap sesama manusia, tentu saja. Juga terhadap sesama makhluk hidup. Karena sebenarnya kita semua hidup berdampingan. Kita saling bergantung.
Manusia membutuhkan tumbuhan untuk hidup. Hewan membutuhkan tumbuhan. Tumbuhan membutuhkan ekosistem yang sehat. Dan ekosistem itu pada akhirnya juga menjaga kehidupan manusia.
Jadi ketika kita merusak satu bagian dari rantai itu, jangan heran kalau efeknya suatu hari kembali kepada kita.
Nature has its own way of reminding us.
Gue sendiri merasa bahwa salah satu persoalan kita sebagai masyarakat adalah, kita mungkin tidak terlalu dibiasakan untuk dekat dengan alam sejak kecil.
Banyak dari kita tumbuh di lingkungan yang membuat alam terbuka terasa seperti sesuatu yang hanya perlu dikunjungi sesekali. Pergi ke gunung, pergi camping, pergi ke pantai, foto-foto. Pulang.
Padahal mungkin yang lebih penting bukan sekadar pernah pergi ke alam, tapi merasa menjadi bagian dari alam.
Hal yang sama juga gue rasakan soal bagaimana kita memperlakukan hewan.
Di banyak keluarga di Indonesia, memelihara hewan belum menjadi bagian dari pendidikan anak. Bahkan kadang hewan masih dianggap sekadar peliharaan yang ada kalau memang kita suka. Sementara di banyak keluarga di negara-negara Barat, anak sejak kecil sudah terbiasa hidup bersama anjing, kucing, kelinci, burung, atau hewan lainnya.
Bukan berarti semua orang Barat otomatis lebih penyayang, tentu saja. Nggak sesederhana itu. Tapi gue melihat ada satu proses pendidikan yang menarik di sana. Ketika seorang anak memelihara seekor anjing, misalnya, dia belajar bahwa ada makhluk lain yang bergantung kepadanya. Anjing itu harus diberi makan. Harus dirawat. Harus diajak jalan. Kalau sakit, harus dibawa ke dokter.
Dan yang paling penting: dia belajar bahwa makhluk lain punya kebutuhan dan perasaan yang berbeda dengan dirinya. Dari situ, mungkin pelan-pelan tumbuh empati. Si anak belajar bahwa dunia ini bukan cuma tentang dirinya. Dan menurut gue, pelajaran seperti itu penting.
Karena kalau sejak kecil kita terbiasa memahami makhluk yang lebih lemah dan memiliki banyak keterbatasan dibanding manusia, mungkin ketika dewasa kita juga akan lebih mudah memahami manusia lain yang punya keterbatasan. Orang yang sakit, orang miskin, orang yang kehilangan rumah, orang yang memiliki perbedaan, orang yang nggak punya kekuasaan, atau bahkan orang yang nggak bisa membela dirinya sendiri.
Termasuk hewan-hewan yang sekarang kehilangan rumahnya karena hutan tempat mereka hidup dibakar.
Karena empati, menurut gue, bukan cuma soal merasa kasihan. Empati adalah kemampuan untuk mencoba melihat dunia dari sudut pandang makhluk lain. Dan ini yang kadang terasa semakin mahal di negeri ini.
Kita bisa melihat orang lain kesusahan, tapi tetap sibuk dengan kepentingan sendiri. Kita bisa melihat alam rusak, tapi masih sibuk menghitung berapa keuntungan yang bisa diperoleh. Kita bisa melihat hewan kehilangan habitat, tapi mungkin yang terpikir justru bagaimana tanah itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita bisa melihat rakyat kesulitan, sementara orang-orang yang seharusnya mengurus mereka justru sibuk mengurus kepentingan pribadi.
Kalau sudah begini, gue jadi berpikir: mungkin persoalan terbesar kita bukan cuma soal hukum yang lemah. Bukan cuma soal pengawasan. Bukan cuma soal regulasi.
Tapi juga soal nirempati.
Ketika seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, sebenarnya ada orang lain yang menjadi korban. Ketika seseorang merusak hutan demi keuntungan pribadi, ada manusia dan hewan lain yang harus membayar akibatnya. Ketika seorang pejabat korup menggunakan uang rakyat untuk kepentingannya sendiri, mungkin dia lupa bahwa di balik uang itu ada jutaan manusia yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dan mungkin yang paling menyedihkan adalah ketika hati sudah terlalu terbiasa melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang bukan urusan kita.
Gue nggak punya solusi besar untuk semua ini. Gue juga nggak mau sok menjadi orang yang paling peduli. Gue cuma merasa kita semua perlu sesekali berhenti dan bercermin.
Bercermin untuk melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain, melihat bagaimana kita memperlakukan alam, melihat bagaimana kita memperlakukan hewan.
Dan mungkin bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau gue berada di posisi mereka, gue ingin diperlakukan seperti apa?”
Sederhana, sih. Tapi mungkin justru hal-hal sederhana seperti ini yang semakin sering kita lupakan.
Semoga suatu hari nanti kita punya masyarakat yang bukan cuma pintar, bukan cuma maju secara ekonomi, bukan cuma hebat dalam membangun gedung dan jalan raya…
Tapi juga punya hati.
Punya rasa cukup.
Punya rasa malu ketika mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Dan yang paling penting:
punya empati.
Karena pada akhirnya, kita semua cuma numpang hidup di tempat yang sama. Manusia, hewan, tumbuhan. Sama-sama makhluk Tuhan. Sama-sama punya hak untuk hidup.
Dan mungkin bumi ini akan menjadi tempat yang sedikit lebih baik kalau kita mulai belajar mencintai bukan hanya yang bisa memberikan sesuatu kepada kita, tetapi juga mereka yang bahkan tidak mampu memberikan apa-apa.
Termasuk mereka yang tidak bisa bicara.
Termasuk mereka yang tidak bisa melawan.
Termasuk mereka yang tidak punya suara.
Mungkin dari situlah kemanusiaan sebenarnya dimulai.





