Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh… Apa Hikmahnya?

Hari ini, 26 Desember 2014, adalah hari peringatan peristiwa Tsunami Aceh 10 tahun yang lalu.

Gue inget banget, saat itu tahun 2004, tanggal 25 Desember, gue sama mamanya Mina (waktu itu Mina belum lahir) makan malam di luar. Malam itu langit terasa aneh. Awan berwarna merah di ujung cakrawala sana. Gue nggak tau apa yang akan terjadi. Yang pasti hati terasa nggak nyaman. Keesokan paginya gue tonton berita di TV, Aceh tertimpa bencana. Gempa besar di laut, yang menyebabkan tsunami. Pada saat itu gue belum tau banyak tentang apa itu tsunami dan bagaimana penyebabnya. Gue belum tau sama sekali bahwa Indonesia ternyata rawan gempa. Setelah kejadian tsunami itulah baru gue mengerti sedikit demi sedikit. Apakah yang gue lihat di malam sebelumnya, awan berwarna merah itu, adalah suatu pertanda? Nol besar. Gue sama sekali nggak tau.

Indonesia dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik (Ring Of Fire), yaitu daerah rawan gempa bumi dan letusan gunung berapi yang berada di wilayah cekungan Samudra Pasifik. Ternyata Indonesia lebih sering mengalami gempa dibanding Jepang. Hampir setiap menit terjadi gempa di Indonesia, baik itu gempa kecil banget atau gempa besar. Kenapa hal ini bisa gue lewatkan sejak kecil?? Memang, akibat letak Indonesia di antara Ring Of Fire itulah pada akhirnya tanah Indonesia menjadi tanah yang subur dan kaya akan hasil alam. Tapi, tetap, berdasarkan keterangan tadi, tentunya kita semua rakyat Indonesia juga perlu banget mengetahui gimana cara menanggulangi gempa. Karena kita hidup di dalamnya. Yang pasti, alam mempunyai sinyal yang mereka berikan kepada makhluk hidup lainnya di muka bumi, agar bisa selamat dari bencana. Setidaknya bisa mengurangi korban jiwa. Sinyal alam itulah yang banyak nggak kita, para manusia, mengerti.

Gue bersyukur sekali tahun 2005 lalu gue dipertemukan dengan kawan-kawan dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan berkat mereka gue banyak mendapat ilmu tentang alam, dan wawasan tentang kebencanaan. Itu yang melatarbelakangi gue untuk membuat proyek “Science In Music: Album Kompilasi Siaga Bencana” bersama LIPI dan Electrified Records di tahun 2008 lalu. Untuk berbagi wawasan tentang kebencanaan dan pengurangan risiko bencana kepada masyarakat luas (lihat: http://frankiindrasmoro.com/projects/album-kompilasi-siaga-bencana.html).

Ketidaktahuan kita tentang gempa dan bencana alam yang membuat banyak korban berjatuhan setiap kali bencana itu terjadi. Trus, kita musti gimana? Menyesal karena hidup di negara yang rawan bencana? Nggak dong! Tetaplah bersyukur. Tuhan Maha Penyayang. Tuhan memberkati kita semua yang mau bersyukur. Rasa syukur yang kita miliki saat ini akan berdampak terhadap masa depan bersama.

Apa yang bisa kita lakukan dalam rangka mensyukuri kenyataan bahwa Indonesia adalah negara yang rawan bencana? Yaaa, mempersiapkan diri kita menghadapinya. Dengan cara mencari tau berbagai informasi tentang kebencanaan, demi mengurangi risikonya. Insya Allah, kita semua akan selalu dalam lindungan-Nya.


NAIF saat berkunjung ke Museum Kapal PLTD di Aceh, 2013 lalu.NAIF saat berkunjung ke Museum Kapal PLTD di Aceh, 2013 lalu.

Sumber foto:
https://www.facebook.com/NAIFfunpage/photos/a.189773882326.141346.181967272326/10152483167957327/?type=1&theater